Senin, 13 April 2015



Senja dipagi hari
9-11 Mei 2014


Terik mentari menyengat tubuh Azura dan membuat baju pramukanya penuh dengan keringat perjuangan. Tapi semua terbayarkan dengan pemandangan indah persawahan nan hijau dan lukisan gunung dari kejauhan. Angin pun mulai menghembus stang leher gadis berambut pendek itu, ditemani langit biru tanpa awan sedikitpun.
Sudah setengah perjalanan dia melewati pos demi pos materi pramuka yang diikutinya. Hari itu ada kemah pramuka di SMAnya. Ara, begitulah panggilan untuk Azura. Ara termasuk siswa yang rajin dan mendapat perlakuan khusus jika ekstrakurikuler yang setiap hari Jumat dilaksanakan itu. Karena dia salah satu calon yang akan menggantikan kakak kelasnya untuk mengajar dan mendidik adik kelasnya nanti. Ara melihat jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya itu. “Ah, ternyata sudah jam setengah empat, tinggal satu pos terakhir ini. Semangat Ara!!”, gumamnya dalam hati. Pos menyanyi sebagai pos terkahir dilaksanakan Ara dengan lancar, akhirnya semua pos sudah dikerjakannya dengan sukses dan lancar.
Sesampainya disekolah, Ara dan teman-temannya beristirahat sebentar didepan tenda dan ganti baju olah raga lalu mendirikan api unggun setelah mendapat instruksi dari kakak kelasnya.
Ditemani mentari yang hanya mengintip diujung cakrawala, Ara dan teman-temannya bekerja sama mendirikan api unggun dengan kayu bakar yang sudah dikumpulkan dengan susah payah beberapa minggu yang lalu. Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya api unggun mereka sudah selesai.
“Mohon perhatiannya, setelah mendirikan api unggun, silahkan kalian bersiap sholat dan ganti pakaian pramuka lengkap. Setelah itu makan malam dan persiapan upacara api unggun dan pensi. Terimakasih.” , jelas salah satu kakak kelas yang memberikan instruksi.
“Ra, sholat, yuk..” , ajak Rifa teman terdekatnya.
“Oh, iya bentar, gue ambil mukena dulu ye.” , jawab Ara.
Setelah beberapa menit kemudian. Mereka berjalan menuju mushola yang kebetulan cukup jauh dengan tenda mereka. Ditengah perjalanan, mereka tak hentinya bercengkrama tentang pengalaman yang tidak terlupakan itu. Nanti malam ada pensi atau pentas seni. Dan sanggah Ara akan menampilkan sebuah drama dan Ara menjadi salah satu pemainnya.
Malam semakin larut, bintang tampak berkelap-kelip ditengah lapangan dengan lampu didepan tenda yang berjajar rapi. Suasana malam diperkemahan itupun semakin terasa. Ara terdiam dalam lamunan sambil memandang bintang yang paling terang.
“Hey, Ara!” , suara Anis mengagetkan Ara.
“Oh, hey, Anis. Bikin gue kaget aja.”
“Yahh, elo sihh pake ngelamun segala. Mending lo persiapan akting buat pensi ntar malem lo. Jangan lupa acting nangisnya, lo kurang penjiwaan waktu latihan kemaren.”
“Oh iyayah.. Oke dehh, gue acting lo perhatiin yee..”
“Siap, kakaaa!!”
Ara pun berakting sesuai naskah dialog drama yang dibuat temannya. Dimana Ara sebagai anak yang sedang kehilangan ayahnya dan ada adegan menangis.
Lampu dimatikan, semua sudah berada diposisi masing-masing untuk upacara api unggun. Hening dan gelap, yang terdengar hanya suara pemimpin upacara api unggun dan gemerlap rasi bintang dimusim panas.
Ketika teman-temannya yang akan menyalakan api dasa dharma saling mengangkat obor dan mengatakan dengan lantang sebuah kalimat sederhana penuh makna. “IKHLAS BHAKTI BINA BANGSA BERBUDI BAWA LAKSANA, SATYAKU KUDHARMAKAN DHARMAKU KUBHAKTIKAN”. Seketika semuanya terang saat api dasa dharma dihidupkan dan paduan suara pun mulai bernyanyi.

Tapi semuanya berubah saat pembacaan sekapur sirih oleh salah satu kakak kelasnya. Suasana horror pun mulai terasa, terdengar sayup-sayup suara lembut membaca sekapur sirih. Setelah menyanyikan lagu Itulah Pramuka sambil bertepuk tangan, maka berakhirlah upacara api unggun malam itu.
Ara masih memandangi kobaran api unggun yang membara itu. Matanya yang hitam tercermin penuh pesona bahwa pramukalah yang sudah mengubah hidupnya menjadi seperti sekarang ini. Lampu mulai dihidupkan kembali, para tamu undangan mulai berdatangan untuk  menyaksikan pensi. Sanggah demi sanggah menampilkan dan menyanyikan lagu pilihan mereka. Tibalah sanggah Ara untuk menampilkan drama. Ara sangat menjiwai perannya dan pensi ditutup oleh lagu yang dinyanyikan bersama teman-temannya yang lain.
Udara dingin  malam semakin menusuk tulang. Setelah ganti baju olah raga, para peserta kemah bersiap untuk tidur. Selama Ara berkemah, dia tidak pernah tidur. Senyaman dan dalam kondisi apapun Ara tidak bisa tidur jika sedang berkemah. Mata Ara terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan semua pengalaman yang terjadi seharian ini. Entahlah, semuanya terlihat begitu mengenang dihati Ara.
Disaat teman-temannya sudah terlelap dan bermimpi, Ara masih saja berkutat dengan sejuta pikiran diotaknya. Ada kala Ara sudah mengantuk, tapi dia tak bisa tidur. Tidak terasa fajar sudah terlihat. Ara segera membangunkan teman-temannya untuk sholat dan bersih diri. Setelah itu mereka disiapkan dan diberi pengarahan untuk membersihkan abu sisa pembakaran api unggun kemarin. Ara terlihat bersemangat, apalagi percikan sinar mentari mulai terasa mengiringi semangat Ara hari minggu itu.
Terlihat indah lukisan senja dipagi hari. Ketika semburat merah menghubungkan garis cakrawala disertai mega-mega. Sambil membersihkan abu sisa api unggun semalam, sesekali Ara menatap wajah sang senja dipagi hari itu. Tergores tipis untuk kenangan dan pengalaman selama dua hari yang bersejarah ini.
Setelah semuanya sudah bersih, mereka bersiap untuk sarapan. Kemudian ganti baju pramuka lengkap dan persiapan upacara penutupan. Setelah upacara penutupan selesai, Ara bersiap untuk pulang dengan pengalaman yang tak terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar