Senja dipagi hari
9-11 Mei
2014
Terik mentari menyengat tubuh Azura dan
membuat baju pramukanya penuh dengan keringat perjuangan. Tapi semua
terbayarkan dengan pemandangan indah persawahan nan hijau dan lukisan gunung
dari kejauhan. Angin pun mulai menghembus stang leher gadis berambut pendek
itu, ditemani langit biru tanpa awan sedikitpun.
Sudah setengah perjalanan dia melewati
pos demi pos materi pramuka yang diikutinya. Hari itu ada kemah pramuka di
SMAnya. Ara, begitulah panggilan untuk Azura. Ara termasuk siswa yang rajin dan
mendapat perlakuan khusus jika ekstrakurikuler yang setiap hari Jumat
dilaksanakan itu. Karena dia salah satu calon yang akan menggantikan kakak
kelasnya untuk mengajar dan mendidik adik kelasnya nanti. Ara melihat jam tangan
hitam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya itu. “Ah, ternyata sudah jam
setengah empat, tinggal satu pos terakhir ini. Semangat Ara!!”, gumamnya dalam
hati. Pos menyanyi sebagai pos terkahir dilaksanakan Ara dengan lancar,
akhirnya semua pos sudah dikerjakannya dengan sukses dan lancar.
Sesampainya disekolah, Ara dan
teman-temannya beristirahat sebentar didepan tenda dan ganti baju olah raga
lalu mendirikan api unggun setelah mendapat instruksi dari kakak kelasnya.
Ditemani mentari yang hanya mengintip
diujung cakrawala, Ara dan teman-temannya bekerja sama mendirikan api unggun
dengan kayu bakar yang sudah dikumpulkan dengan susah payah beberapa minggu
yang lalu. Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya api unggun mereka sudah
selesai.
“Mohon perhatiannya, setelah mendirikan
api unggun, silahkan kalian bersiap sholat dan ganti pakaian pramuka lengkap.
Setelah itu makan malam dan persiapan upacara api unggun dan pensi.
Terimakasih.” , jelas salah satu kakak kelas yang memberikan instruksi.
“Ra, sholat, yuk..” , ajak Rifa teman
terdekatnya.
“Oh, iya bentar, gue ambil mukena dulu
ye.” , jawab Ara.
Setelah beberapa menit kemudian. Mereka
berjalan menuju mushola yang kebetulan cukup jauh dengan tenda mereka. Ditengah
perjalanan, mereka tak hentinya bercengkrama tentang pengalaman yang tidak
terlupakan itu. Nanti malam ada pensi atau pentas seni. Dan sanggah Ara akan
menampilkan sebuah drama dan Ara menjadi salah satu pemainnya.
Malam semakin larut, bintang tampak
berkelap-kelip ditengah lapangan dengan lampu didepan tenda yang berjajar rapi.
Suasana malam diperkemahan itupun semakin terasa. Ara terdiam dalam lamunan
sambil memandang bintang yang paling terang.
“Hey, Ara!” , suara Anis mengagetkan
Ara.
“Oh, hey, Anis. Bikin gue kaget aja.”
“Yahh, elo sihh pake ngelamun segala.
Mending lo persiapan akting buat pensi ntar malem lo. Jangan lupa acting
nangisnya, lo kurang penjiwaan waktu latihan kemaren.”
“Oh iyayah.. Oke dehh, gue acting lo
perhatiin yee..”
“Siap, kakaaa!!”
Ara pun berakting sesuai naskah dialog
drama yang dibuat temannya. Dimana Ara sebagai anak yang sedang kehilangan
ayahnya dan ada adegan menangis.
Lampu dimatikan, semua sudah berada
diposisi masing-masing untuk upacara api unggun. Hening dan gelap, yang
terdengar hanya suara pemimpin upacara api unggun dan gemerlap rasi bintang
dimusim panas.
Ketika teman-temannya yang akan
menyalakan api dasa dharma saling mengangkat obor dan mengatakan dengan lantang
sebuah kalimat sederhana penuh makna. “IKHLAS BHAKTI BINA BANGSA BERBUDI BAWA
LAKSANA, SATYAKU KUDHARMAKAN DHARMAKU KUBHAKTIKAN”. Seketika semuanya terang
saat api dasa dharma dihidupkan dan paduan suara pun mulai bernyanyi.
Tapi semuanya berubah saat pembacaan
sekapur sirih oleh salah satu kakak kelasnya. Suasana horror pun mulai terasa,
terdengar sayup-sayup suara lembut membaca sekapur sirih. Setelah menyanyikan
lagu Itulah Pramuka sambil bertepuk tangan, maka berakhirlah upacara api unggun
malam itu.
Ara masih memandangi kobaran api unggun
yang membara itu. Matanya yang hitam tercermin penuh pesona bahwa pramukalah
yang sudah mengubah hidupnya menjadi seperti sekarang ini. Lampu mulai
dihidupkan kembali, para tamu undangan mulai berdatangan untuk menyaksikan pensi. Sanggah demi sanggah
menampilkan dan menyanyikan lagu pilihan mereka. Tibalah sanggah Ara untuk
menampilkan drama. Ara sangat menjiwai perannya dan pensi ditutup oleh lagu
yang dinyanyikan bersama teman-temannya yang lain.
Udara dingin malam semakin menusuk tulang. Setelah ganti
baju olah raga, para peserta kemah bersiap untuk tidur. Selama Ara berkemah,
dia tidak pernah tidur. Senyaman dan dalam kondisi apapun Ara tidak bisa tidur
jika sedang berkemah. Mata Ara terpejam, tapi pikirannya tidak bisa tidur. Dia
masih memikirkan semua pengalaman yang terjadi seharian ini. Entahlah, semuanya
terlihat begitu mengenang dihati Ara.
Disaat teman-temannya sudah terlelap dan
bermimpi, Ara masih saja berkutat dengan sejuta pikiran diotaknya. Ada kala Ara
sudah mengantuk, tapi dia tak bisa tidur. Tidak terasa fajar sudah terlihat.
Ara segera membangunkan teman-temannya untuk sholat dan bersih diri. Setelah
itu mereka disiapkan dan diberi pengarahan untuk membersihkan abu sisa
pembakaran api unggun kemarin. Ara terlihat bersemangat, apalagi percikan sinar
mentari mulai terasa mengiringi semangat Ara hari minggu itu.
Terlihat indah lukisan senja dipagi
hari. Ketika semburat merah menghubungkan garis cakrawala disertai mega-mega. Sambil
membersihkan abu sisa api unggun semalam, sesekali Ara menatap wajah sang senja
dipagi hari itu. Tergores tipis untuk kenangan dan pengalaman selama dua hari
yang bersejarah ini.
Setelah semuanya sudah bersih, mereka
bersiap untuk sarapan. Kemudian ganti baju pramuka lengkap dan persiapan
upacara penutupan. Setelah upacara penutupan selesai, Ara bersiap untuk pulang
dengan pengalaman yang tak terlupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar