Senin, 13 April 2015



Cinta Bersemi di Perkemahan

Laksana embun pagi memandikan dedaunan
Bagaikan mentari menyinari bumi
Seperti udara yang selalu kubutuhkan
Kaulah bidadari yang bertahta dihati
Wajah sampingmu indah nan mempesona
Goresan tipis senyuman manja
Dirimu terlukis sempurna
Oh ananda…

Sebait puisi yang aneh bagiku. Puisi yang terinspirasi dari seseorang yang sudah megubah hidupku menjadi seperti ini. Dialah Nazhema Revanna Kartika Putri, nama yang selalu memenuhi setiap sudut diotakku. Zhema dan aku adalah sahabat dekat sejak setahun terakhir kebersamaanku dalam organisasi pramuka disekolah. Kebersamaan, canda tawa, dan pertengkaran yang selalu membuat kita dekat. Aku mulai teringat peristiwa sebulan yang lalu, kala itu kita sedang mengikuti perkemahan dipegunungan.
Udara sejuk pegunungan menghembus pelan stang leherku. Pemandangan indah seakan menjadi saksi peristiwa bersejarah itu terjadi. Sudah lama aku memendam rasa yang lebih dari sahabat ini, pelan tapi pasti perasaan ini semakin dalam dan aku lebih memilih memendamnya diam-diam. Keluguan dan kebaikan hati Zhema yang membuatku bertahan. Aku menyukainya, tapi aku tidak tahu apakan Zhema juga suka denganku atau tidak. Tapi ketika mata kita tidak sengaja saling memandang, bola mata itu semakin membuatku yakin bahwa aku menyayangi Zhema begitu juga sebaliknya. Berulang kali aku nyatakan perasaan ini melalui perhatian dan kepedulianku terhadapnya, tapi Zhema terlihat acuh tak acuh dan tidak mempedulikanku. Meski secuek apapun dan setidak peduli apapun sifat Zhema, aku tidak bisa membencinya karena aku teramat sangat menyayanginya.
Kala itu Zhema sedang disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Berkali-kali kuperhatikan dia memegang kepala dan terlihat kecapaian setelah seharian mengikuti kegiatan yang diselenggarakan. Aku mencoba menanyakannya melalui pesan singkat, “Zhema, kamu kenapa?? Kalo kamu capek mending kamu istirahat saja.”. Dan dia menjawab singkat padat jelas “Aku tidak apa-apa, kok.”. Aku tahu kalau dia berbohong dan dia mencoba menenangkanku dengan jawaban seperti itu.
Dua hari berkemah dipegunungan menyisakan kenangan yang teramat dalam. Terlebih saat hari terakhir. Ketika semua perlengkapan sudah dikemas dan bersiap untuk pulang, ketika itu kita sedang menunggu transportasi untuk menjemput kita dan kembali lagi disekolah. Teman-temanku menyuruhku untuk menyatakan cinta kepada Zhema didepan teman-teman yang lain. Aku pun berusaha meyakinkan diriku. Aku sudah menunggu dibawah dengan sorakan ramai dari teman-teman. Setelah Zhema dibujuk untuk turun dan keluar dari basecamp, akhirnya Zhema turun dengan malu.
Didepan teman-teman, aku dan Zhema saling berhadapan. Kemudian aku setengah jongkok dan meraih tangan Zhema. Angin menghembus rambut pendek Zhema dan terpancar dari bola matanya yang hitam bulat itu ada suatu hal yang Zhema miliki. Aku berbisik pelan “Zhema, I love you. Will you be my girlfriend??”. Dengan tersipu malu Zhema menjawab “Cakra, I love you too. And I do.”
Jabatan tangan pagi itu masih terkenang sampai sekarang.  Pujaan hati yang kudambakan selama ini tlah menjadi milikku. Berawal dari sebuah kebersamaan dan pramuka yang mempertemukanku dengan Zhema.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar