Cinta Bersemi di Perkemahan
Laksana embun pagi memandikan
dedaunan
Bagaikan mentari menyinari bumi
Seperti udara yang selalu
kubutuhkan
Kaulah bidadari yang bertahta
dihati
Wajah sampingmu indah nan mempesona
Goresan tipis senyuman manja
Dirimu terlukis sempurna
Oh ananda…
Sebait puisi yang aneh bagiku. Puisi
yang terinspirasi dari seseorang yang sudah megubah hidupku menjadi seperti
ini. Dialah Nazhema Revanna Kartika Putri, nama yang selalu memenuhi setiap
sudut diotakku. Zhema dan aku adalah sahabat dekat sejak setahun terakhir
kebersamaanku dalam organisasi pramuka disekolah. Kebersamaan, canda tawa, dan
pertengkaran yang selalu membuat kita dekat. Aku mulai teringat peristiwa
sebulan yang lalu, kala itu kita sedang mengikuti perkemahan dipegunungan.
Udara sejuk pegunungan menghembus pelan
stang leherku. Pemandangan indah seakan menjadi saksi peristiwa bersejarah itu
terjadi. Sudah lama aku memendam rasa yang lebih dari sahabat ini, pelan tapi
pasti perasaan ini semakin dalam dan aku lebih memilih memendamnya diam-diam.
Keluguan dan kebaikan hati Zhema yang membuatku bertahan. Aku menyukainya, tapi
aku tidak tahu apakan Zhema juga suka denganku atau tidak. Tapi ketika mata
kita tidak sengaja saling memandang, bola mata itu semakin membuatku yakin bahwa
aku menyayangi Zhema begitu juga sebaliknya. Berulang kali aku nyatakan
perasaan ini melalui perhatian dan kepedulianku terhadapnya, tapi Zhema
terlihat acuh tak acuh dan tidak mempedulikanku. Meski secuek apapun dan
setidak peduli apapun sifat Zhema, aku tidak bisa membencinya karena aku
teramat sangat menyayanginya.
Kala itu Zhema sedang disibukkan dengan
berbagai macam kegiatan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Berkali-kali
kuperhatikan dia memegang kepala dan terlihat kecapaian setelah seharian mengikuti
kegiatan yang diselenggarakan. Aku mencoba menanyakannya melalui pesan singkat,
“Zhema, kamu kenapa?? Kalo kamu capek mending kamu istirahat saja.”. Dan dia
menjawab singkat padat jelas “Aku tidak apa-apa, kok.”. Aku tahu kalau dia
berbohong dan dia mencoba menenangkanku dengan jawaban seperti itu.
Dua hari berkemah dipegunungan
menyisakan kenangan yang teramat dalam. Terlebih saat hari terakhir. Ketika
semua perlengkapan sudah dikemas dan bersiap untuk pulang, ketika itu kita
sedang menunggu transportasi untuk menjemput kita dan kembali lagi disekolah.
Teman-temanku menyuruhku untuk menyatakan cinta kepada Zhema didepan
teman-teman yang lain. Aku pun berusaha meyakinkan diriku. Aku sudah menunggu
dibawah dengan sorakan ramai dari teman-teman. Setelah Zhema dibujuk untuk
turun dan keluar dari basecamp, akhirnya Zhema turun dengan malu.
Didepan teman-teman, aku dan Zhema
saling berhadapan. Kemudian aku setengah jongkok dan meraih tangan Zhema. Angin
menghembus rambut pendek Zhema dan terpancar dari bola matanya yang hitam bulat
itu ada suatu hal yang Zhema miliki. Aku berbisik pelan “Zhema, I love you.
Will you be my girlfriend??”. Dengan tersipu malu Zhema menjawab “Cakra, I love
you too. And I do.”
Jabatan tangan pagi itu masih terkenang
sampai sekarang. Pujaan hati yang
kudambakan selama ini tlah menjadi milikku. Berawal dari sebuah kebersamaan dan
pramuka yang mempertemukanku dengan Zhema.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar