Senin, 13 April 2015



                   Semut-semut Nakal
30-31 Agustus 2014


B
erawal dari suara penuh misteri ditengah malem yang gue denger waktu kemah pertama disekolah ini, serta niat dan tekad gue untuk terus menggapai mimpi. Ternyata usaha keras gue selama setahun ini nggak sia-sia. Setelah gue mengikuti ekstra pramuka setahun dan penuh perjuangan serta pengorbanan, akhirnya hari ini kemah pelantikan dewan ambalan yang gue udah nantikan dari dulu. Dua hari yang sangat bersejarah bagi gue.
Dimulai dari upacara pembukaan, dimana waktu itu gue kebagian jadi pengibar bendera. Setelah semua mempersiapkan diri dan menempati posisi masing-masing sebagai petugas. Akhirnya upacara pembukaan pun dimulai. Gilang, gue, dan Raka jadi pengibar bendera. Berdiri tegap sambil berulang kali gue baca surat al-fatihah dan surat al-ikhlas dalam hati. Gimana nggak grogi, untuk pertama kalinya seumur hidup, gue jadi pengibar bendera apalagi waktu kemah pelantikan kaya gini.
Terik matahari gue hiraukan, keringat mulai bercucuran, detak jantung semakin cepat waktu protocol bilang “Penghormatan kepada Pembina upacara”, dan sebentar lagi “Pengibaran Bendera Sang Merah Putih”. Waktu Raka bilang “Siap”, jantung gue rasanya mau copot, gue nggak henti-hentinya istighfar. Rasanya kaki gue kaku gak bisa jalan. Rasanya kaya orang mati berdiri.
Tibalah pengibaran bendera sang merah putih, Raka yang memimpin untuk mengatur posisi. Gue melangkahkan kaki sambil membawa bendera. Detak jantung meningkat 1000x lipat, rasanya seisi lapangan bisa denger detak jantung gue saking cepatnya. Tahap demi tahap pengibaran bendera akhirnya gue lakukan dengan lancar. Syukurlah…
Upacara pembukaan selesai, tapi tidak berjalan lancar, masih banyak kesalahan yang gue dan teman-teman lakuin. Setelah itu pengumpulan perkap dan persiapan pendirian tenda dan pendirian api unggun. Waktu itu persanggah dibagi ada yang mendirikan tenda dan ada yang mendirikan api unggun. Gue kebagian mendirikan api unggun. Setelah ganti baju olah raga, gue dan teman-teman yang lain langsung saling bekerja sama. Satu per satu kayu ditata rapi sesuai pola api unggun yang mengerucut. Waktu gue diatas lagi nata kayu, naik sambil nanjak kayu yang dibawah gitu. Ehh.. si Niko malah naroh tangga besi disamping gue dan ujung tangga nyenggol kayu dan gak sengaja kayunya kena kepala gue. Alhasil langsung pusing deh kepala dan membentuk sebuah benjolan kecil diubun-ubun gue. Lalu gue turun sambil merintih kesakitan sambil mengelus-elus kepala gue.
Setelah gue kembali seperti semula, gue melanjutkan mendirikan api unggun dan sesekali gue menatap wajah senja yang indah. Semuanya selesai dan passus disiapin sana sini. Kemudian ganti baju pramuka dan makan malam.
Mentari mulai kembali keperaduannya, langit senja dengan gradasi warna,  terlihat bulan sabit yang ditemani bintang kejora, angin menghembus pelan stang leher yang gue pakai, dan malam pun mulai menyapa…
Setelah sholat maghrib berjamaah, dibawah rasi bintang dimusim hujan, gue dan teman-teman latihan nyanyi buat upacara api unggun dan pensi nanti malem. Terdengar riuh canda tawa dari temen-temen gue. Suasana malam semakin terasa. Upacara api unggun segera dimulai, gladhi bersih sebentar dan akhirnya sholat isya’ dulu. Berhubung temen-temen gue pada sholat nanti, akhirnya gue putusin buat sholat sendirian. Pas mau make kaos kaki, eh passus disiapin. Sampe-sampe kaos kaki sebelah kanan kebalik. Waktu itu juga gue masih megang mukena, kan kagak mungkin gue didalam barisan sambil megang mukena apalagi mukenanya gue pake. Akhirnya gue suruh tuh anak kelas sepuluh buat naroh mukena didalam mushola.
Upacara api unggun pun dimulai. Semuanya sudah menempati posisi masing-masing. Lampu dimatikan, lampion dihidupkan, dan suasana berubah menjadi mencekam. Hening dan sunyi. Hanya terdengar hembusan angin malam dan taburan bintang. Gue terkagum-kagum dengan formasi lampion yang melingkar diatas lapangan. Suara protocol membacakan tahap upacara api unggun pun terdengar seram. Dan tibalah saatnya penyulutan api dasa dharma. Penyulutannya agak lama, lama banget malah. Karena dari obor kesatu, kedua, dan seterusnya tertiup angin mulu.

Lalu tibalah pembacaan sekapur sirih yang membuat suasana semakin horror. Upacara api unggun dilaksanakan dengan lancar karena malam mungkin kesalahannya tidak terlihat. Gue terus menatap ujung demi ujung api unggun yang berkobar itu. Bukannya terpesona dengan keindahan api unggun itu, tapi gue heran. Kayu bakar tiga truk yang gue kumpulin susah payah sama temen-temen eh dibakar gitu aja tanpa rasa bersalah. Belum lagi bensin dan solar yang habis berliter-liter buat ngebakar tuh kayu. Eh, waktu upacara api unggun ada lampion yang kebakar lagi. Sungguh memori yang tak terlupakan.
Kobaran api dasa dharma masih membara menemani semangat perjuangan gue selama setahun ini. Lampu mulai dihidupkan dan riuh suasana mulai ramai dengan orang-orang yang sedang mempersiapkan pensi. Sebelum pensi dimulai, gue bermaksud mengambil mukena yang gue tinggal di mushola tadi. Waktu jalan beberapa langkah dari mushola, gue berpapasan dengan kak Keyndra, kakak kelas yang gue kagumi dari sifat dinginnya itu. Kalo tidak salah waktu itu dia menoleh kearah gue.
Pensi pun dimulai, kebanyakan anak kelas sepuluh menyanyi diiringi dengan gitar dan bernyanyi penuh riang gembira. Gue asyik menikmati setiap lagu yang mereka nyanyikan. Dengan pede gue joget dengan jari telunjuk goyang kanan kiri dan kepala mengikuti arah jari telunjuk gue. Apalagi goyang bang jali gue, sampe-sampe kakak kelas nyamperin gue. Malem itu gue merasa bahagia seolah tanpa beban sedikit pun. Giliran passus buat nyanyi empat lagu sekaligus, yang dimana setiap lagu mempunyai makna penuh arti. Selesai pensi, waktunya ganti baju olah raga dan bersiap untuk tidur. Bagaimanapun juga, yang namanya kemah, gue gak pernah bisa tidur. Gimana pun posisi gua dan senyaman apapun tempat tidur gue, pasti gua gak bisa tidur. Gue masih tidur dengan posisi yang teramat sangat tidak mengenakkan. Tiba-tiba… passus dan kelas sepuluh disiapin. Dimulailah jelajah malam penuh misteri…
Setelah dibarisin dan dibagi kelompoknya. Gue, Anisa, Dude, Lala, dan Bagus jadi kelompok pertama yang jalan. Mata kita ditutup mitela dan gakbisa ngeliat apapun. Yaiyalah!!
Kita berlima saling megang pundak temen yang didepan. Sambil ngeraba-raba gitu dan menyusuri jalan yang tak tahu entah kemana. Akhirnya sampailah kita disuatu tempat penuh misteri. Awalnya disuruh buka stang leher dan topi lalu tiduran diatas rumput yang basah dan masih dengan mata yang tertutup. Gue mencoba menebak dimana kah gue sekarang. Ada yang bilang buat lingkaran-lingkaran gitulah. Saat gue sedang asyik menebak, ada semut nakal yang masuk ke rok gue. Sontak gue langsung duduk dan ngeraba rok dalem gue dan gue tidur lagi. Eh semutnya malah ngelunjak sampe kedalem-dalem dan rasanya gatel-gatel gimana gituu. Gue duduk lagi dan ngambil semut didalem rok. Dan untuk ketiga kalinya, semutnya tambah nakal masuk kedalem rok gue lagi. Saking gak tahan, gue lalu berdiri sambil loncat-loncat dan ngeraba rok. Sampe-sampe gue disamperin sama salah satu kakak kelas sambil disenterin pula. “Eh, dek, kamu kenapa??” , tanyanya. “Nggak apa-apa, kak, cuma serangga kok..”, jawab gue sambil merintih. Lalu gue tidur lagi dengan rok yang gue lipat rapat dengan kaki gue.
Gue kembali nebak dimanakah gue sekarang. Gue mulai meraba rumput. “Ehm, tadi ada lingkaran-lingkaran, masa ini dikuburan, gamungkin kuburan sedekat ini. Pasti ini dilapangan. Oh iyaa lapangan deket sekolah.”, gumam gue dalam hati. Waktu mitela disuruh buka dan tebakan gue benar sekali kalo gue sedang ada dilapangan deket sekolah. Ditengah-tengah gue dan temen-temen udah ada piala hasil jerih payah yang didapetin kakak kelas gue. Banyak alumni waktu itu yang nasehatin dan nguji mental kita. Waktu ditanya materi, si Anisa malah nyebutin bapak koperasi apalah yang ternyata salah. Kenangan itu yang masih membekas dihati gue sampai sekarang. Gue cuma diem, diem, dan diem. Gatau harus mau ngomong apa, ntar malah salah trus gue digantung dipohon kecambah sama alumni lagi. Gue nyari aman aja.
Setelah itu, kita disiapin untuk persiapan upacara pelantikan. Menegangkan, menakutkan, dan membuat penasaran. Tapi semua terbayarkan dengan usaha keras gue dan teman-teman gue selama ini. Menjadi yang paling terbaik dari semua yang terbaik. Semuanya berpelukan, air mata menetes, tangis pun pecah ketika itu, suka duka menyelimuti senja dipagi hari itu. Taburan bintang menjadi saksi, udara sejuk dipagi hari menyelimuti, percikan sinar mentari pun mengiringi langkah kami. Lalu bersalaman untuk mengucapkan selamat. Termasuk gue salaman sama kak Keyndra.
Lalu kembali kesekolah dengan langkah tegap maju jalan dan sesampainya disana muterin tenda dulu. Setelah itu sholat subuh dan ganti baju passus buat senam lalu sarapan pagi. Kemudian ganti baju pramuka lagi dan bersiap untuk  jelajah. Melewati hutan, sawah, sungai, dan gue kebagian pos bayangan sama Hana di pojok lapangan dibawah pohon. Hari itu waktu terasa cepat berlalu dan setelah jelajah selesai. Bersiap berkemas tenda dan upacara penutupan. Saat upacara penutupan pun ada kesan tersendiri yang gue rasain. Melihat satu per satu wajah bahagia dari mereka semua. Pengalaman indah tak terlupakan.
Usaha keras itu tak akan mengkhianati, sahabat…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar